Sepak terjang Gubernur
DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam kancah perpolitikan Indonesia
selalu mengundang kajian-kajian baru. Saat ini, Ahok kembali membuat ‘gaduh’
perbincangan politik di media massa serta masyarakat Indonesia, terkait ‘bahasa
WC’ yang diungkapkan saat diwawancarai secara live oleh Kompas TV.
Opini
masyarakat terbelah. Sebagian menganggap wajar, sisanya mengecam keras. Kewajaran
masyarakat (terutama di media sosial) terhadap ‘bahasa WC’ berdasarkan
pertimbangan rasa frustasi masyarakat, atas kelelahan serta kekalahan, dalam mengadapi
praktek korupsi yang semakin menggurita. Kecaman keras tentunya hadir atas
pertimbangan etika, yang tidak sepatutnya dihadirkan oleh pemimpin serta tokoh
publik, karena boleh jadi hal tersebut akan berpengaruh terhadap perilaku
‘misuh’ anak muda.
Kita harus
pahami. Kehadiran ‘pisuhan Ahok’ tidak terlepas dari serentetan kejadian yang
terjadi sebelum-sebelumnya: Ahok vs DPRD. Dia rupanya sudah benar-benar kesal
dengan oknum DPRD DKI Jakarta yang secara terang-terangan, berani memainkan anggaran
sampai Rp. 12.1 Trilyun dengan sepengetahuannya. Segala upaya sudah dikerahkannya
supaya anggaran tersebut dapat terselamatkan, dari laporan ke Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga upaya mediasi yang diinisiasi oleh menteri
dalam negeri (Mendagri), meski harus berakhir dengan kebuntuan.
Ingatan kita
juga bisa kembali terhadap kasus Florence Sihombing, yang harus berurusan
dengan pihak kepolisian akibat pisuhan yang ditulisnya pada media sosial
terhadap masyarakat Jogja. Juga ibu Ani Yudhoyono yang pernah di-bully
akibat menuliskan kata “followers bodoh” dalam akun instragram miliknya. Sama
seperti Ahok, kedua kasus tersebut didasarkan atas kekesalan/kemarahan yang
sedang dihadapinya.
Kekayaan
Budaya
Kita perlu
menyadari, pisuhan merupakan aspek yang tak dapat terpisahkan dari kebudayaan
(bahasa) Indonesia. Misuh digunakan sebagai alat ekspresi terhadap emosi yang
telah memuncak, bahkan terkadang berkhasiat mengobati kedongkolan serta dendam
membara di dalam hati.
Adapun, nyatanya
beberapa daerah di Indonesia menganggap pisuhan sebagai hal biasa, menjadi ciri
khas, dan mencerminkan keakraban. Budayawan Emha Ainun Nadjib, pada pengajian
Milad ke-55 di Universitas Muhammadiyah Surakarta pernah menjelaskan sebuah
tesis: pisuhan merupakan tanda keakraban. Jika berbicang bersama teman, lantas
kita masih saja kaku menggunakan bahasa formal, dianggap keduanya belum
memiliki keakraban. Hal berbeda saat sesama teman sudah berani saling misuh,
(sebagai candaan) justru menjadi manifestasi pereratan pertemanan.
Dalam kajian
strukturalisme, Ferdinand de Saussure membagi bahasa pada tataran langue
dan parole. Pisuhan dalam tataran langue selayaknya dianggap
sebagai kekayaan budaya/bahasa, sedangkan pisuhan dalam parole sangat
bergantung terhadap konvensi serta kesepakatan masyarakat. Pisuhan dianggap
sebagai sesuatu yang tak beretika.
Adapun, jika ingin
ditelisik lebih lanjut, pisuhan pada tingkat parole nyatanya mampu/sangat
bisa ditoleransi di Indonesia. Sudah sangat dipahami, sastrawan, seniman,
musisi, sering menggunakan pisuhan untuk mengejek para koruptor. Pada tingkat
persaingan supporter sepakbola, sangat jelas bagaimana berton-ton kata-kata
pisuhan bertaburan dari mulut-mulut terhadap sopporter terhadap lainnya.
Arena pisuhan
politik terjadi saat Pilpres lalu. Kedua kubu bermusuhan dan bermisuhan. Kita
ingat, salah satu Timses Prabowo Fakhri Hamzah pernah menyebut kata ‘sinting’
kepada Joko Widodo saat masih menjadi capres. Juga sebaliknya. Pada Orde Lama,
terjadi pertentangan antara kubu Islam (Masyumi) dengan PKI sehingga
mengakibatkan perilaku sarkastik (misuh) dari kedua kubu, bahkan pelecehan
terhadap simbol lawan.
Gentle
Ahmad Syafi’i
Maarif sebagai tokoh bangsa yang sangat keras menentang korupsi, pada bukunya
yang berjudul Menggugah Hati Nurani Bangsa (2010) mengungkapkan, pemikirannya
tentang kekeliruan rakyat Indonesia dalam memaknai permasalahan bangsa. Saat
terjadi tsunami Aceh atau bencana alam lainnya, kita sepakat menganggap semua itu
sebagai bencana nasional, sehingga kita berbondong-bondong serta bergotong
royong, agar mampu menanggulangi bencana tersebut. Alhasil, bencana mampu
teratasi dengan baik.
Lantas,
mengapa korupsi yang efeknya lebih dahsyat dari bencana alam tidak diperlakukan
sama? Apakah korupsi dianggap sebagai bencana yang abstrak sehingga dianggap
tidak terlalu mengancam? Padahal korupsi memiliki efek membunuh yang sangat
kejam, meski bergerak secara perlahan tapi pasti.
Kita patut
menyadari. Apa yang ditampilkan oleh Ahok, merupakan salah satu pendidikan
politik bagi rakyat Indonesia. Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD) yang
dulu dianggap tabu, kini semakin terbuka peluang untuk dikaji dan
diperbincangkan oleh masyarakat.
Apakah lebih
baik, kita melihat panggung politik diisi oleh manusia-manusia yang memiliki
kemampuan santun dalam berbahasa, namun kerjaannya merampok uang rakyat? Saya
rasa, pisuhan yang dilakukan Ahok merupakan perbuatan yang sangat gentle
sebagai manusia-manusia yang benar-benar berkomitmen melawan korupsi, dibandingkan
dengan kepengecutan yang dilakukan oleh para pengguna media sosial (termasuk
saya) yang hanya mampu memisuh-misuhi koruptor di media sosial. [Irfan/UN]

Ayoo Main di Pelangi Togel
BalasHapusTOTAL HADIAH RATUSAN JUTAAN UNTUK DIBAGIKAN
minimal deposit hanya 20.000 rb
Telp : +85581569708
BBM : D8E23B5C
Line : togelpelangi
Link: https://www.togelpelangi.info